ReviewFilm Indonesia Ular Tangga 2017 - Masih tentang film yang ada di iflix, kali ini adalah film berjudul ular tangga yang genrenya horor dan sudah rilis 9 maret 2017. Alasan nonton karena penasaran saja sama judulnya, karena ini maksudnya gimana ya? apa mirip sama jumanji? Hehe
UlarTangga (2017) 5.8 29. Ular Tangga (2017) Trailer. Seorang siswa indigo yang dapat melihat sesuatu yang buruk akan terjadi yang datang melalui mimpi dengan rencana dan teman-temannya untuk mendaki gunung tetapi tidak ada yang percaya padanya. Genre:Horror, Thriller. Actors:Ahmad Affandy, Alessia Cestaro, Fauzan Nasrul, Randa Septian, Roy
Halitu terkait dengan rencana mendaki gunung tim pecinta alam kampusnya. Tim yang akan berangkat dalam pendakian itu dipimpin Bagas, kekasihnya. Bagas tidak percaya pada kekhawatiran Fina. Ia membujuk Fina untuk tetap berangkat bersama Martha, William, Dodoy, dan Lani. Perjalanan mereka dibantu Gina, pendaki dan penunjuk jalan yang berpengalaman.
Dịch Vụ Hỗ Trợ Vay Tiền Nhanh 1s. Skip to content Viu OriginalsDrama KoreaDrama JepangDrama AsiaVariety KoreaAnimeFilmDaftar/Masuk Akun Sinopsis Film Ular Tangga Ular Tangga adalah film horror Indonesia yang disutradari oleh Arie Aziz. Film ini mengambil tema unik dengan cerita mistis dan misteri yang terjadi saat pendakian gunung. Sinopsis Film Ular Tangga Fina diperankan oleh Vicky Monica memiliki mimpi buruk akan pacarnya, Bagas diperankan oleh Ahmad Affandy yang terikat dalam suatu rumah tua. Mimpi buruk ini terus berulang hingga dia akhirnya bertanya pada seorang dosen diperankan oleh Roy Marten. Karena mimpi buruk ini juga, dia jadi punya firasat bahwa dirinya akan kehilangan seorang yang disayang. Hal ini membuat dia ragu untuk pergi bersama teman tim pecinta alam ke gunung Barong. Akan tetapi, Bagas dan Martha diperankan oleh Alessia Cestaro meyakinkan Fina bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Perjalanan mereka awalnya dipandu oleh Gina diperankan oleh Shareefa Danish, yang sudah memilki pengalaman 12 tahun mendaki. Gina sudah memperingati mereka agar tidak mengambil jalan yang ditutup, juga memberi peta perjalanan yang sebaiknya mereka gunakan. Namun, karena mereka tidak mau melewati sunset di puncak gunung, mereka memutuskan mengambil jalan yang lebih cepat. Padahal jalan tersebut tertutup dan tidak boleh dilewati. Saat menelusuri jalan tersebut, mereka terus-terusan melewati pohon yang sama hingga akhirnya menemukan sebuah rumah tua tidak berpenghuni. Karena langit perlahan mulai gelap, mereka memutuskan untuk menginap di sana. Malam hari saat semua orang tertidur, Fina mendengar bisikan dari dua anak kecil berpakaian putih. Bisikan itu membuat dia dan temannya menemukan permainan ular tangga yang terbuat dari kayu. Tanpa sengaja, Lina diperankan oleh Yova Gracia melempar dadu dari permainan itu dan tiba-tiba hilang. Mulai saat itulah, beberapa anggota tim pecinta alam ini hilang entah kemana. Akankah semua anggota bisa ditemukan dan dapat kembali selamat dari gunung Barong? Nonton Streaming Film Indonesia Ular Tangga di Viu Gimana kelanjutan kisah Fina dan teman-teman pecinta alamnya? Yuk, langsung nonton streaming atau download Ular Tangga di Viu! Pastikan juga kamu aktifkan Viu Premium untuk nonton streaming dan download film dan drama favorit lainnya tanpa batas. Jangan lupa download aplikasi Viu di smartphone kamu untuk nonton film Indonesia, film Mandarin, film Thailand, film komedi, dan masih banyak lagi. Yuk nonton Ular Tangga di bawah ini sekarang! About the Author Viu Providing the best and latest Asian content on your screen! Don't miss the best and latest Korean, Chinese, Thailand, Japanese, and of course Indonesian movies and dramas on Viu! Related Posts
Home Resensi Rabu, 08 Maret 2017 - 1417 WIB Kisah Horor di Balik Film Ular Tangga A A A JAKARTA - Film Ular Tangga besutan Arie Azis ternyata menyimpan kisah horor orang-orang di balik layar. Kisah ini dialami langsung oleh penulis naskah dialami Girry Pratama, produser film. Saat ke Curug Barong dan mandi di air terjun, dia melihat ada satu batu besar yang sangat menyerupai kepala batu besar ini ada dalam film. Selanjutnya adalah kisah seorang nenek yang suka muncul di balik pohon besar. Nenek ini juga ada dalam film."Jadi awalnya kisah ini saya tulis iseng saja. Tetapi tidak disangka, ternyata jadi begitu panjang," kata Girry, kepada Sindonews, di Jakarta, Selasa 7/3/2017.Ditambahkan dia, perjalanan menuju curug cukup jauh dengan rute yang menanjak dan menurun. Latar inilah yang kemudian mengilhaminya memberi titel Ular dia, naskah awal cerita ini kemudian diberikan kepada Mia, terdiri dari tiga draf, karangan asli Girry. Karena lompat-lompat, akhirnya naskah karena terlalu ngepop, ada bagian yang tidak cocok. Nia mengaku dirinya sempat tidak ingin melanjuti penyuntingan naskah itu. Apalagi dia sedang sibuk."Ada tiga draf. Akhirnya saya rombak. Pada draf ketiga, saya ke Bali. Pernah saya cuekin naskah itu. Ketika saya kerja, saya di sana numpang di resort," menginap di resort ini, Mia mengaku didatangi oleh tiga makhluk gaib yang selalu mengganggunya. Salah satu dari makhluk itu berwujud nenek-nenek."Mereka lewat dari pintu depan ke pintu belakang dan duduk di membelakangi saya. Percaya atau tidak, nenek yang saya lihat di pondok itu ada di film," penampakan makhluk halus selama tiga hari berturut-turut di resortnya itulah, naskah film ini akhirnya bisa langsung dia selesaikan dan film akhirnya film ini, nenek-nenek yang dilihat Mia berperan sebagai makhluk halus penunggu pohon besar yang menyandera arwah manusia sebagai budaknya.nfl film indonesia Berita Terkini More 4 jam yang lalu 4 jam yang lalu 5 jam yang lalu 5 jam yang lalu 5 jam yang lalu 6 jam yang lalu
"Ular Tangga" punya bekal mencukupi untuk menjadi suguhan horor menarik. Premisnya unik. Keterlibatan Shareefa Daanish pasca lima tahun absen bermain film juga menjadi daya tarik. Fakta di balik layar lain turut pula menyita perhatian, yaitu mengenai Wilson Tirta, produser eksekutif sekaligus pendiri Lingkar Film selaku rumah produksi bagi "Ular Tangga" yang masih berusia 14 tahun, menjadikannya produser film Indonesia termuda. Tidak heran jika gemerlap industri film menarik minat wiraswasta muda ini. Ide cerita Wilson sempat ditawarkan pada Jujur Prananto, namun batal karena proses penulisan naskah Jujur dianggap terlalu lama. Rupanya ini pangkal permasalahannya. Ketidaksabaran Wilson mendorongnya berpaling pada Mia Amalia "Luntang Lantung", "Inikah Rasanya Cinta?". Sedangkan bangku penyutradaraan diisi Arie Azis "Oops!! Ada Vampir", "Penganten Pocong", "Rumah Hantu Pasar Malam". Oh Tuhan, mendadak proyek ini terasa mengkhawatirkan. Apakah hasrat mempercepat proses produksi berujung mengesampingkan kualitas? Menengok hasil akhirnya, kecurigaan tersebut jelas beralasan. Bayangkan saja, anda menyaksikan film berjudul "Ular Tangga" lalu mendapati amat minimnya kontribusi permainan itu. Ibarat makan sate ayam dengan porsi daging ayam sangat sedikit. Atau nasi goreng tanpa nasi. Wajar bila sebagai konsumen saya berang, merasa tertipu. Alkisah, Fina Vicky Monica kerap mengalami mimpi buruk yang dicurigainya merupakan pertanda atas kejadian masa depan. Rasa penasaran membuat Fina membaca buku "The Interpretation of Dreams" milik Sigmund Freud sembari berkonsultasi pada seorang dosen Roy Marten. Saya enggan menyalahkan kebodohan pada film horor mengingat tujuan utamanya adalah menakut-nakuti. Ketidaktepatan ilmu maupun lubang logika bisa dimaklumi. Namun kengawuran "Ular Tangga" sudah kelewatan, menunjukkan kedunguan hasil ketidakpedulian penulisnya. Menyatukan fantasi, mistis, reliji dan sains dalam horor itu lumrah. Namun harus ada poin yang dijadikan pegangan. Seseorang bisa membuat cerita didasari sains lalu melebarkan semaunya berbasis imajinasi ke ranah lain, pun sebaliknya. Fokus gambar kerap menyoroti buku "The Interpretation of Dreams" tapi jelas teori Freud hasrat terpendam, bawah sadar, masa lalu bukan penopang cerita. Bahkan, setelahnya unsur mimpi tak lagi muncul, beralih sepenuhnya ke mistis. Aneh pula kala Roy Marten selaku dosen awalnya berteori soal sisi terpendam manusia lewat kalimat yang bak dikutip mentah-mentah dari Wikipedia sebelum tiba-tiba bicara tentang ilmu lebur sukma, lalu berganti lagi membicarakan agama. Kenapa seorang dosen menggunakan istilah "lebur sukma" ketimbang "astral projection" yang mana lebih scientific? Koreksi jika salah, tapi setahu saya lebur sukma bukan semata-mata ajian mengeluarkan roh seseorang dari tubuhnya. Tapi sudahlah. Terserah. Semua itu tak penting asal "Ular Tangga" sanggup menghibur. Kembali ke cerita, Fina dan rekan-rekan pecinta alamnya tengah bersiap mendaki Gunung Barong walau ia merasakan firasat buruk. Di tengah pendakian, mereka tak menghiraukan larangan Gina Shareefa Daanish sang guide melewati sebuah jalur, dan bisa diduga, teror pun menghampiri. Hantu-hantu bermunculan, ditambah misteri tentang ular tangga berbahan kayu yang terkubur di bawah pohon besar. Mari lupakan fakta betapa bodohnya para tokoh melanggar pesan sosok yang paham seluk beluk daerah setempat. Mana ada pecinta alam berpengalaman melakukan itu? Kenapa pula pecinta alam nekat mengambil barang misterius di suatu tempat apapun alasannya? Lagi-lagi saya bermurah hati memaafkan kelalaian tersebut. Film ini jadi tak termaafkan ketika permainan ular tangga urung dimanfaatkan. Setelah menanti sekitar 35 menit, daripada hybrid petualangan fantasi dan horor, papan ular tangga hanya dijadikan jalan menghilangkan satu per satu karakter. Setiap dadu bergulir, terjadi gempa, kemudian seseorang hilang. Begitu seterusnya, menciptakan pola berikut Lani menggelindingkan dadu "Hah? Lani hilang! Ke mana Lani?!" "Lani! Lani!" Mereka mencari Lani. Dodoy menggelindingkan dadu. "Hah? Dodoy hilang! Ke mana Dodoy?!" "Dodoy! Dodoy!" Mereka mencari Dodoy. Bagas menggelindingkan dadu. "Hah? Bagas hilang! Ke mana Bagas?!" "Bagas! Bagas!" Rasa takut juga gagal dipancing akibat penampakan hantu medioker serta hanya satu jump scare berhasil mengejutkan selama 94 menit durasi. Kengerian semakin nihil akibat kerap tak sesuainya pemilihan lagu. Paling menggelikan kala nomor pop balada "Memori Indah" milik Achie membungkus momen mendekati akhir yang diniati emosional tetapi berujung memancing tawa. Ending-nya berpotensi memuaskan tipikal tragic cliffhanger khas horor kalau bukan karena tambahan satu adegan yang memaksakan twist sembari berusaha menambah porsi Shareefa Daanish. Ya, jika anda tertarik menonton "Ular Tangga" karena keberadaan sang aktris, urungkan niatan tersebut. Shareefa hanya muncul di awal dan akhir dengan signifikansi minim serupa board game-nya. Padahal kalau ada yang bisa menyelamatkan "Ular Tangga", Shareefa Daanish orangnya. Ticket Sponsored by Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics
maksud akhir film ular tangga